Bila didengarkan dengan seksama musik jemblung cukup unik bahkan harmoni dari alat-alat musiknya dapat membangkitkan semangat bagi pendengarnya. Makanya tak salah jika jemblung dipilih oleh Sunan Bonang ketika pertama kali menyebarkan agama Islam di Kota Kediri. Menurut penuturan salah satu dalang jemblung masih tersisa di Kota Kediri, Mbah Mansyur Musthofa warga Kelurahan Tamanan, saat itu Sunan Bonang mulai menyebarkan Islam di daerah Kediri. Untuk menyebarkan ajaran Islam Sunan Bonang berjalan menyusuri Kali Brantas dengan diiringi oleh beberapa orang santri. Suatu hari Sunan Bonang sampai di suatu tempat yang diberi nama Tanjung Tani. Setelah berkeliling kampung dan mempelajari lingkungan sekitarnya ternyata warga di kampung itu masih banyak yang bodoh dan masih menyembah berhala. Pada awal memberikan ajaran Islam Sunan Bonang cara yang saklek dan tegas. Tapi ternyata dengan cara itu tak juga mampu ditangkap oleh warga kampung. Sangking jengkelnya Sunan Bonang sampai menyebut mereka dengan gemblung yang artinya bodoh. Akhirnya dipilihlah cara lain yaitu dengan menggunakan bunyi-bunyian.
Uniknya dengan alat musik yang berbunyi “blang blung-blang bung” itu akhirnya mampu memukau masyarakat dan menariknya untuk memeluk agama Islam. Alat-alat yang digunakan untuk memainkan jemblung kala itu terdiri dari Terbang, Jedor, Gendang, Kethuk, Thithil dan Penerus. Dengan cara itulah misi Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam dapat tercapai, walaupun bunyi-bunyian “Blang Bung-Blang Bung” itu sebenarnya sindiran terhadap kegemblungan mereka, tapi mereka tidak sadar. Dengan bunyi-bunyian itu Sunan Bonang memasukkan sholawat. Karena suaranya yang blang bung-blang bung itulah akhirnya kesenian itu dinamai dengan jemblung. Tapi sejatinya Sunan Bonang memilih kata jemblung berasal dari gemblung yang sekaligus untuk menggambarkan kebodohan mereka. Bahkan Kyai Juwaini Pengasuh Pondok Pesantren Ngasaluddin Krembangan Kepung Kabupaten Kediri mengatakan, belajar Jemblung berarti ‘belajar mencari kebodohan‘.
Pada mulanya, Jemblung dimanfaatkan hanya sebagai alat untuk mencari simpatik masyarakat agar mengetahui ajaran Islam. Namun dalam perkembangannya Jemblung juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya, memahami dan menjalankan ajaran ke-Islaman serta tata kehidupan yang lainnya. Dalam setiap pertunjukan Jemblung, lakon yang diceritakan oleh dalang adalah kisah-kisah tentang sejarah kebudayaa Islam, Marmoyo-Marmadi, sejarah tentang kerajaan-kerajaan di tanah Jawa khususnya Kediri, dan masih banyak lagi tema lain yang diangkat menjadi bahan cerita.
Sesuai dengan struktur dramatik, setelah jejer babak pertama, dalang akan bercerita tentang lakon, isi, klimaks, anti klimaks, penutup dan doa. Dan benar bila dicermati, sesungguhnya seni Jemblung sarat dengan nilai-nilai moral yang sangat tinggi. Tak hanya dijadikan tontonan semata, tapi sesungguhnya seni jemblung berisi tuntunan untuk hidup.
“Yaa Nur ….ngendikane…..oooo…..ayo…..ayo….shollu robbunaa…..sholatulloh salamuloh ‘ala thoha Rasulillah, …..alon-alon ceritane (yaa Rasululloh) Pangerane Yaa Alloh……Amin-amin”(21x).